Make your own free website on Tripod.com








Friday, Sept 18
Konflik Terbuka Politik Malaysia
Republika

Sejarah perjuangan kemerdekaan di semenanjung Malaysia sangat dekat dengan perjuangan rakyat Indonesia, baik sebelum Agustus 1945 maupun sesudahnya. Sebelum Agustus 1945, Indonesia dan semenanjung Malaya (nama lama Malaysia) sama-sama dijajah Jepang. Dalam suatu tulisan Kamarudin Jaffar tentang seorang tokoh perjuangan Malaya, Dr Burhanuddin, disebutkan bahwa Bung Karno dan Bung Hatta pernah merencanakan memproklamirkan kemerdekaan kedua bangsa pada tanggal yang sama dalam suasana penjajahan Jepang itu. Yakni, setelah terbentuknya Kesatuan Rakyat Indonesia Semenanjung (KRIS), khususnya setelah Dr Burhanuddin dan kawan-kawan bertemu Bung Karno dan Bung Hatta di Markas Besar Jepang di Asia Tenggara, di Saigon.

Kita masih ingat betapa pada masa Tengku Abdurahman, Bung Karno marah atas pembentukan Malaysia yang meliputi Malaya, Singapore, dan Serawak. Bung Karno merasa bahwa hal ini adalah manuver politis kaum kolonialis untuk menjauhkan saudara serumpun Melayu dengan Indonesia. Maka beliau mengeluarkan perintah yang terkenal: Ganyang Malaysia!

Kini sejarah menunjukkan lain. Malaysia terbukti lebih berhasil membangun negara dan bangsanya daripada kita, khususnya dalam bidang pendidikan dan ekonomi. Walaupun kini Indonesia dan Malaysia sama-sama menghadapi krisis Asia, khususnya krisis moneter yang menjadi silang sengketa antara Mahathir Moahammad dengan Anwar Ibrahim dan berujung pada pemecatan Anwar.

Demikian pula dalam hal kerukunan bangsa. Dalam kacamata pakar masalah Cina perantauan, Malaysia berhasil menata keharmonisan etnis Melayu dengan Cina. Malaysia terdiri dari tiga ras atau etnis utama: Melayu, Cina, dan India-Arab. Limapuluh enam persen dari 20 juta populasi Malaysia adalah etnis Melayu, dan 32 persen adalah etnis Cina. Ternyata kemajemukan ras Malaysia yang sempat berantakan pada 1960-an dapat dirukunkan, setelah masalah ekonominya dapat ditata lebih adil. Ketimpangan ekonomi tidak lagi separah saat mereka mulai membangun, ketika -- seperti di Indonesia -- hampir seluruh kunci dan distribusi perekonomian Malaysia dikuasai Cina. Ini berkat keberanian politik tokoh-tokoh nasional Malaysia dalam berterus terang mengenai masalah utama Malaysia ini.

Konflik politik

Gunjingan politik tentang tidak harmonisnya hubungan antara PM Mahathir Mohammad dengan Wakil PM Anwar Ibrahim telah lama berkembang di kalangan elite politik Malaysia, dan sampai juga di kuping orang Indonesia.

Memang, dalam manajemen, apalagi manajemen politik, sering kita temui konflik antara orang pertama dengan orang kedua. Sebagaimana lazimnya, pemberi bensin konflik alamiah ini adalah orang-orang di sekitar -- atau para kroni -- kedua orang itu.

Kata ahli human behavior dari Berkeley, Prof Knudson: Man is alike and not like (manusia itu sama dan berbeda). Maka, dalam kesamaan bayi kembar siam saja selalu ada pula ketidaksamaannya. Konflik itu perlu untuk kemajuan, asal dapat dibina menjadi konflik konstruktif. Konflik itu baru bahaya kalau menjadi konflik destruktif. Konflik destruktif terjadi kalau kemajemukan dan perbedaan ini berakumulasi sehingga dari sedikit lama-lama menjadi bukit dan berakhir dengan tenaga besar dan menghantam sistem yang dibina. Konflik destruktif itu dapat pula terjadi jika sejak semula memang tidak ada kecocokan kepribadian.

Kedua pemimpin Malaysia ini tumbuh melalui jalan politiknya sendiri-sendiri. Generasi Mahathir adalah generasi zaman penjajah, sedang Anwar tumbuh dalam suasana kemerdekaan. Keduanya tumbuh keras dalam politik. Baik Mahathir maupun Anwar pernah menjadi oposan pemerintah yang berkuasa, namun akhirnya tampil dalam pentas politik nasional sebagai orang pertama dan kedua.

Tampak ada persamaan dan perbedaan pribadi dan latar belakang sejarah politik antara Mahathir dan Anwar. Anwar berlatar belakang Melayu, sedang Mahathir berlatar belakang India-Arab.

Kita, di Indonesia, dapat mengumpamakan mental melayu Malaysia seperti Melayu Riau, kurang keras dibandingkan beberapa suku Indonesia yang lainnya. Mahathir dalam upayanya mengubah ''mental lembek'' Melayu dalam persiapan menghadapi kompetisi dan globalisasi, sekilas tampak berhasil.

Kini, kita melihat dalam seminar-seminar internasional, orang Melayu bukan lagi anggota suatu soft nation (bangsa lembek) seperti kita orang Indonesia. Ini karena orang Melayu ditunjang oleh penguasaan bahasa Inggris yang rata-rata lebih baik daripada orang Indonesia.

Dalam era Mahathir ini, Malaysia berupaya keras tidak mau jatuh dalam bayang-bayang saudara serumpun Indonesia dalam segala bidang. Itu sebabnya secara umum Malaysia di bawah Mahathir lebih agresif daripada Indonesia, termasuk dalam strategi politik dan ekonomi menghadapi Barat.

Apakah Mahathir khawatir kepada mental kemelayuan Anwar dalam menghadapi Barat? Apakah Mahathir ingin memberi pelajaran mental terakhir kepada Anwar untuk lulus atau gagal menjadi orang pertama Malaysia? Ataukah memang benar bahwa pemerintahan Malaysia di bawah Mahathir telah mengandung penyelewengan-penyelewengan, sehingga perlu direformasi seperti dituntut oleh Anwar Ibrahim? Dengan kata lain, apakah pemerintahan Mahathir telah dipenuhi dengan berbagai ketidakadilan?

Pengalaman Indonesia

Kita baru saja merasa terkejut ketika pada Mei yang lalu Gedung DPR diduduki mahasiswa. ''Nyamuk-nyamuk kecil'' dan ''tentara semut'' ini tampak tak takut menghadapi tentara. Amien Rais dan kawan-kawan menjadi lokomotif gerakan reformasi tanpa pemberontakan senjata. Siapa pernah mengira, bahwa menerima tekanan seperti itu, Pak Harto akan turun dari tahta kekuasaannya setelah 32 tahun berkuasa? Seperti kata Dr Sudjatmoko, batas manusia menderita ketidakadilan harus diwaspadai. Kalau batas nilai ambang ketidakadilan telah dilewati, maka manusia -- masyarakat dan rakyat -- akan melawannya. Sejarah peranan mahasiswa dan intelektual kembali berulang di panggung politik nasional.

Memang, tidak seluruh dinamika gerak sejarah dapat dikendalikan manusia, betapapun besar kekuasaan dan kekuatan yang dimilikinya. Sebagai orang beriman, kita hanya dapat mengatakan bahwa timbul-tenggelamnya kekuasaan dan pemimpin adalah sunnatullah, ketentuan Allah yang Maha Kuasa.

Perjalanan sejarah politik kontemporer Malaysia baru berawal dengan konflik terbuka Mahathir dan Anwar. Apakah nilai ambang ketidakadilan telah atau belum dilewati di Malaysia? Sejarah masih akan terus berputar bagi kekuasaan dan kepemimpinan di Malaysia. Kalau benar ketidakadilan telah dirasakan rakyat Malaysia dalam politik, maka gerakan reformasi Malaysia yang kini tengah dimulai mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, akan sukses. Kalau ketidakadilan baru terasa di kalangan elite politik, maka rakyat dan mahasiswa serta pemuda Malaysia belum akan bergerak masal.

Mari kita doakan supaya semua konflik politik itu berakhir untuk kepentingan rakyat dan berbilang kaum Malaysia.